Dalam madzhab Syafi'iyah
khususnya mewajibkan setiap orang yang melakukan sholat membaca Basmalah pada awal surat Al-Fatihah,
karena basmalah merupakan ayat pertama darinya. Hal tersebut didasarkan pada
hadits shohih dan kuat dari Rasulallah saw. Antara lain yang dikemukakan oleh
Abu Hurairah ra. bahwa Rasulalallah saw. bersabda: “Jika kamu sekalian membaca
Alhamdulillah, maka bacalah Bismillahi
Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Sesungguhnya Al-Fatihah itu Ummu Al- qur’an (induk Alqur’an), Ummul-Kitab (induk Kitab), As-Sab’
Al-Matsani dan Bismillahi Ar-Rahmaan
Ar-Rahiim, adalah salah satu ayatnya”. (HR.Daruquthny [I:312], Imam Baihaqi
[II:45] dan lain-lainnya dengan isnad shohih baik secara marfu’ mau pun secara
mauquf).
{ Syeikh Saqqaf (pengarang kitab
'Shalat Bersama Nabi saw.) merasa
aneh terhadap at-tanaqudhat (kontradiksi)
bahwa muhaddits ash-shuhuf wa al-auraq (pembaharu lembaran-lembaran
koran dan kertas), bukanlah pembaharu intelek yang benar dan jujur. (Dia)
menshohihkan hadits diatas tersebut dalam beberapa tempat dari kitabnya dan
dalam beberapa kitab karangan yang di nisbatkan kepada dirinya, antara lain
kitab Shohih Al-Jam’ Wa Ziyadatuh
[I:261] dan Shihatuh [III : 179].
Meski pun demikian dia tetap saja berkata dalam kitab Sifat Sholat Nabi–nya halaman 96: “Kemudian Rasulallah saw. membaca
Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, dan tidak mengeraskan bacaannya”. Jika Basmalah diakui (oleh dia)
sebagai salah satu ayat dari Al-Fatihah, lalu mengapa tidak dikeraskan juga
bacaannya? }.
>
Ibnu ‘Abbas ra. meriwayatkan bahwa dia membaca Al-Fatihah, lalu membaca wa-laqad atainaaka sab’an min al-matsaaniya
wal Qur’anal ‘Adhiim. Lalu dia berkata, “Itulah Fatihat al-Kitab (Pembuka
Al-Kitab/Alqur’an) dan Bismillahir
Rahmaanir Rahiim adalah ayat yang ketujuh” (Al-Hafidh Ibn Hajar dalam
Al-Fath VIII:382 mengatakan hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Thabrani
dengan isnad Hasan).
>
Diriwayatkan dari Ummu Salamah ra. bahwa, “Rasulallah saw. membaca Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim dalamn
sholat, dan beliau menganggapnya sebagai satu ayat…”. (HR.Abu Dawud dalam
as-Sunan [IV:37], Imam Daraquthni [I:307], Imam Hakim [II:231], Imam Baihaqi
[II:44] dan lain-lainnya dengan isnad shohih).
> Imam
Ishak bin Rahuwiyah pernah ditanya tentang seseorang yang meninggalkan Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Maka
dia menjawab; “Siapa yang meninggalkan ba’,
atau sin, atau mim dari basmalah, maka sholatnya batal, karena Al-hamdu
(Al-Fatihah) itu tujuh ayat”. (Hal ini akan ditemukan pada kitab Sayr A’lam Al-Nubmala’ [XI:369] karangan
Ad-Dzahabi).
>
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan Abu Hurairah [ra] serta yang lainnya: “Bahwa sesungguhnya Nabi
Muhammad saw. menjaharkan (bacaan) Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim”.
(Hadits dari Ibnu ‘Abbas, diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam Kasyf Al-Atsar
[I:255]; Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra [II:47] dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan wa Al-Atsar [II:308]
dan lain-lainnya ; Al-Haitsami dalam Mujma’ Al-Zawaid [II:109] mengatakan,
hadits tersebut di riwayatkan oleh Al-Bazzar dan rijal-nya mautsuuquun (terpercaya) ; Al-Daraquthni [I:303-304] telah
meriwayatkan dalam berbagai macam isnad siapa pun yang menemukannya tidak akan
meragukan keshohihannya. Rincian pembicaraannya dapat dilihat pada jilid III
dari At-Tanaqudhat. Ada pun hadits
dari Abu Hurairah ra., diriwayatkan oleh Imam Hakim dalam Al-Mustadrak-nya [I:232] dan perawi lainnya. Haditsnya shohih. Al-Dzahabi rupanya berusaha me
lemahkan hadits tersebut dalam Talkhish
Al-Mustadrak. Dia mengatakan, ‘Muhammad itu dhaif’, yang dia maksud adalah Muhammad bin Qais, padahal tidak
demikian. Muhammad bin Qais sebetulnya
orang baik dan terpercaya, termasuk rijal
(sanad) Imam Muslim sebagaimana disebutkan dalam Tahdzib At-Tahdzib [IX:367]. Disitu disebutkan Muhammad bin Qais
diakui mautsuuq oleh Ya’qub bin
Sufyan Al-Fusawi dan Abu Dawud, Al-Hafidh pun mengakui hal itu juga dalam At-Taqrib-nya).
> Disebutkan
dalam shohih Bukhori [II:251 dalam Al-Fath al-Bari], bahwa Abu Hurairah ra.
berkata: “Pada setiap sholat dibaca (Al-Fatihah dan surah—Red.). Apa yang yang
beliau perdengarkan (jaharkan) maka kamipun memperdengarkannya
(menjaharkannya), dan apa yang beliau samarkan (lirihkan), maka kamipun
menyamarkannya (melirihkan- nya)..”.
Perkataan orang yang menyebutkan
bahwa Rasulallah saw. kadang-kadang melirihkan
dan kadang-kadang menjaharkan (bacaan
basmalah), itu tidak benar. Karena mereka juga berdalil dengan hadits-hadits mu’allal yang ditolak. Bahkan
sebagiannya hanya disimpulkan dari hasil pemahaman (al-mafhum) yang berlawanan dengan hadits al-manthuq, yang jelas menyatakan adanya menjahar bacaan basmalah. Sedangkan yang manthuq itu harus didahulukan atas yang mafhum, sebagaimana ditetapkan dalam
ilmu ushul fiqih.
> Imam
Muslim dalam Shohih-nya [I:300]
meriwayatkan hadits dari Anas ra. yang mengatakan: “Ketika suatu hari
Rasulallah saw. berada disekitar kami, tiba-tiba beliau mengantuk (tidur
sebentar), lalu mengangkat kepalanya sambil tersenyum. Kami bertanya; ‘Apa yang
menyebabkan engkau tertawa wahai Rasulallah’? Beliau menjawab; ‘Tadi ada surah
yang diturunkan kepadaku, lalu beliau membaca Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, innaa a’thainaaka al-kautsar….sampai
akhir hadits’ “. Imam Nawawi mengatakan dalam Syarh Muslim-nya [IV:111) bahwa basmalah
itu merupakan satu ayat dari setiap
surah kecuali surah Bara’ah
atau at-Taubah berlandaskan dalil
bahwa basmalah itu di tulis didalam mushaf
dengan khath (tulisan/ kaligrafi)
mushaf. Hal itu didasarkan kepada kesepakatan sahabat dan ijma’ mereka bahwa
mereka tidak akan menetapkan sesuatu didalam Alqur’an
dengan khath Alqur’an yang selain Alqur’an. Ummat Islam sesudah mereka pun sejak dahulu sampai
sekarang, sepakat atau ber-ijma’ bahwa basmalah
itu tidak ada pada awal surah Bara’ah
dan tidak ditulis padanya. Hal itu semua menguatkan apa yang telah kami
katakan.
> Diriwayatkan
oleh Abu Nu’aim Al-Mujmir ,seorang Imam, Faqih,
terpercaya termasuk periwayat hadits Shohih
Enam sempat bergaul dengan Abu Hurairah ra. selama 20 tahun: "Aku melakukan sholat
dibelakang Abu Hurairah ra., maka dia membaca Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim lalu dia membaca Ummu Alqur’an
hingga sampai kepada Wa laadh dhaalliin
kemudian dia mengatakan amin. Dan orang-orang pun mengucapkan amin. Setiap
(akan) sujud ia mengucapkan Allahu Akbar.
Dan apabila bangun dari duduk dia meng ucapkan Allahu Akbar. Dan jika bersalam (mengucapkan assalamu‘alaikum). Dia
kemudian mengatakan, ‘Demi Tuhan yang jiwaku ada pada kekuasaan-Nya,
sesungguhnya aku orang yang lebih mirip shalatnya dengan Rasulallah saw daripada kalian”.
(Imam Nasa’i dalam As-Sunan II:134; Imam Bukhori mengisyaratkannya hadits
tersebut dalam shohihnya [II:266
dalam Al-Fath] ; Ibnu Hibban dalam shohihnya
[V:100] ; Ibn Khuzaimah dalam shohihnya
I:251 ; Ibn Al-Jarud dalam Muntaqa
halaman 184 ;Al-Daraquthni [I:300]
mengatakan semua perawinya tsiqah ; Hakim dalam Al-Mustadrak [I:232] ;
Imam Baihaqi dalam As-Sunan [II:58]
dan dalam kitab Ma’rifat As-Sunan wa
Al-Atsar [II:371] dan mengatakan isnadnya shohih. Dan hadits itu dishohihkan oleh sejumlah para penghafal
hadits seperti Imam Nawawi, Ibn Hajar dalam Al-Fath [II:267] bahkan dia
mengatakan bahwa Imam Nawawi membuat bab khusus ‘Menjaharkan Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim’, itulah hadits yang
paling shohih mengenai hal tersebut).
Sedangkan menurut Syeikh Saqqaf (pengarang), hadits itu
bukan yang paling shohih, justru hadits
Anas yang diriwayatkan Imam Bukhori lah yang paling shohih yaitu “Rasulallah saw. me-mad-kan (memanjangkan bacaan) bismillah, me-mad-kan Ar-Rahmaan dan me-mad-kan
Ar-Rahiim”. Ibn Hajar dalam Al-Fath II:229 telah menetapkan untuk menggunakan
hadits yang menetapkan adanya jahar dalam
membaca basmalah. Selanjutnya dia
mengatakan, ‘Maka jelaslah (benarnya) hadits yang menetapkan adanya jahar
dengan basmalah’.
> Dalam
Shohih Bukhori [IX:91 dalam Al-Fath]
disebutkan bahwa Anas bin Malik ra. pernah di tanya mengenai bacaan Nabi
Muhammad saw.. Dia menjawab: “Bacaan Nabi itu (mengandung) mad (dipanjangkan), (yakni) memanjangkan bacaan Bismillah, memanjangkan kata Ar-Rahman dan memanjangkan kata Ar-Rahim”.
Ada pun hadits Anas ra. yang
antara lain mengatakan: “Aku melakukan shalat dibelakang Nabi Muhammad saw.,
Abu Bakar, Umar dan ‘Utsman. Mereka membuka (bacaan Alquran) dengan Alhamdulillah Rabbil ‘Aalamiin dan
mereka tidak menyebut (membaca) Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim baik di
awal pembacaannya mau pun di akhirnya”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Maka
aku tidak mendengar salah satu di antara mereka membaca Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim"
yang diriwayatkan Imam Muslim dalam shohih-nya
[I:299 no.50 dan 52]. Hadits tersebut mu’allal
(hadits yang mempunyai banyak ‘ilat atau yang menurunkannya dari derajat
shohih). Diantara ‘ilat atau penyakit yang melemahkan derajat hadits itu
adalah, ungkapan terakhir dalam hadits tersebut ‘Mereka tidak menyebut atau membaca Bismillah’. Sebenarnya itu
bukan dari perkataan (hadits) Anas, tetapi hanya perkataan salah seorang perawi
yang memahami kata-kata Alhamdulillah
Rabbil ‘Aalamiin dan tidak bermaksud untuk meniadakan basmalah dari Al-Fatihah.
Argumentasi ini dikuatkan dengan
hadits Abu Hurairah ra., disebutkan bahwa Rasulallah saw. bersabda, ”Alhamdulillah rabbil ‘aalamiin sab’u ayat
ihdaahunna Bismillahi Ar-Rahmaan Ar-Rahiim, wa hiya as-sab’u al-matsaani wa
al-Quraani al-‘adhiim, wa hiya Ummu Al-Qur’an wa Fatihat Al-Kitaab, (Al-Fatihah
itu tujuh ayat, salah satunya adalah Bismillahi
Ar-Rahmaan Ar-Rahiim. Itulah tujuh (ayat) yang diulang-ulang Al-qur’an yang
agung dan itulah induk Alqur’an dan Fatihat (Pembuka) Al-Kitab (Alqur’an)”.
Al-hafidh Al-Haitami dalam Al-Mujma’ [II:109] mengatakan, “Hadits tersebut
diriwayatkan Imam Thabarani dalam Al-Ausath, rijal-nya tsiqat”.
Dari keterangan diatas tadi,
dapat ditetapkan ada empat indikasi mengenai kelemahan hadits Anas ra diatas
tersebut:
a). Hadits yang shohih dan tsabit (kuat) yang diriwayatkan Imam
Bukhori dari Anas berlawanan dengan hadits tersebut. Dalam hadits itu
disebutkan, “Baca- an Nabi itu (mengandung) mad
(dipanjangkan), (yakni) memanjangkan bacaan Bismillah,
memanjangkan kata Ar Rahman dan
memanjangkan kata Ar-Rahim”.
b). Semua Hafidh (pakar penghafal
hadits) yang menulis dalam Mushthalah Hadits dan mengarang mengenai
hadits, menyebutkan hadits Anas tersebut sebagai contoh hadits mu’allal yang meniadakan menjahar basmalah
dalam Al-Fatihah itu
c). Hadits Anas tersebut,
disamping mu’allal, bersifat meniadakan, sedangkan hadits Anas yang
lainnya beserta hadits-hadits lain dari para sahabat menetapkan (istbat) adanya jahar
dalam membaca basmalah. Padahal
seperti yang di tetapkan dalam ilmu ushul
fiqh ialah Yang menetapkan
(al-mutsbit) itu harus didahulukan
daripada yang meniadakan, apalagi
yang meniadakan itu masih mengandung ‘ilat
(berupa hadits mu’allal). Men-jam’u
(mengkompromikan) pun tidak bisa dilakukan.
d) Diriwayatkan secara kuat dan
benar, bahwa para sahabat yang empat -radhiyallahu ‘anhum- khususnya khalifah
Umar dan khalifah ‘Ali semuanya menjaharkan bacaan basmalah dalam Al-Fatihah
(lihat umpamanya kitab Ma’rifat As-Sunan
Wa Al-Atsar [II:372 dan 378] ).Wallahu a’lam. (makalah tentang pembacaan Al-Fatihah
dan Basmalah kami kutip dan susun secara bebas dari kitab Shalat Bersama Nabi saw. karya
Hasan Bin ‘Ali As-Saqqaf, terbitan Dar al-Imam an-Nawawi, Oman, Jordania] cet.
pertama, 1993 , diterjemahkan oleh Drs. Tarmana Ahmad Qosim diterbitkan oleh
Pustaka Hidayah Bandung).
Walillahittaufiq
Tidak ada komentar:
Posting Komentar