Dikutip dari sebuah tulisan
Jum`at, 21
Rabiul Akhir 1430 H / 17 April 2009
Pak Ustad
Yth.
Saya mau
bertanya kepada Pak ustad tentang masalah berpacaran. Dahulu saya pernah
berpacaran tetapi terus putus, sedangkan saya tahu bahwa Islam melarang untuk
berpacaran. Nah, semenjak saya putus berpacaran itu saya sudah bertekad untuk
tidak berpacaran lagi. Dan saya percaya bahwa jodoh ada di tangan Tuhan. Tetapi
banyak orang disekitar saya yang tidak mendukung sikap ini. Bahkan ada yang
menuduh saya hanya bersikap pasrah dan tidak mau berusaha. Bukankah kita
bermaksud mencari pasangan hidup dan itu berarti baik bukan? Tanpa pacaran mana
bisa kita mengenal sifat-sifat pasangan kita. Opini seperti ini mengganggu saya
sejak masih di SMA dan semakin menggoyahkan iman saya.
Apa yang harus saya lakukan, dan bagaimana menyikapi opini tersebut?
Jawab:
Saudaraku yang baik, saya sangat berbahagia dan bangga atas kepahaman anda yang
mengakui bahwa Islam melarang pacaran. Apalagi jika pacaran itu dilakukan dengan
melanggar batas-batas syariat Islam seperti berdua-duaan apalagi sampai
bermesraan segala. Dan, keyakinan bahwa jodoh ada di tangan Tuhan adalah sebuah
keyakinan yang benar menurut akidah Islam. Apapun yang kita usahakan jika Tuhan
tidak menghendaki tetap saja tidak akan terjadi sama sekali apa yang kita
usahakan itu.
Adapun mengenai pendapat yang mengatakan bahwa tidak berpacaran berarti tidak
berusaha mencari jodoh adalah sebuah ucapan yang bersumber dari hawa nafsu
untuk menutupi kepentingan syahwat belaka. Apakah orang yang berpacaran memang
berniat mau menikah? Mungkinkah pernikahan dilakukan oleh orang yang masih
bersekolah di SMA atau kuliah? Biasanya mereka pasti menolak jika akan
dinikahkan segera dengan alasan mereka masih sekolah. Dan waktu menikah masih
panjang, menunggu tamat sekolah dulu dan mendapat pekerjaan. Lantas kalau harus
menunggu sebegitu lama buat apa harus berpacaran terlebih dahulu? Apalagi
alasan berpacaran dikatakan demi untuk mencari pasangan hidup dan mengenal sifat-sifatnya.
Alasan berpacaran terlebih dahulu sebelum menikah tidaklah terlalu tepat.
Banyak orang berpacaran selalu berpura-pura di hadapan sang pacar. Biasanya
sifat-sifat buruk yang dimiliki selalu disembunyikan dari sang pacar. Nah,
darimana kita bisa tahu sifat aslinya, sementara jika ketemu sang pacar selalu
berpura-pura baik untuk menutupi semua kelemahan yang ada. Justru sifat asli
sang pacar baru muncul setelah perkawinan dan biasanya berujung kepada
kekecewaan belaka.
Kemudian, perlu dipahami bahwa jiwa muda selalu memandang calon pasangan hidup
sesuai dengan trend dan selera, juga nafsu dan perasaan. Sementara orangtua
lebih memandang dengan hati, kejujuran dan timbangan akal yang matang. Untuk
itu, persiapkanlah diri dengan menuntut ilmu yang cukup dalam studi anda.
Kemudian jika memang sudah benar-benar siap untuk berumah tangga, anda dapat
meminta tolong kepada orangtua, guru agama atau kakak dan abang yang telah
dewasa mencarikan jodoh anda. Dan jika sudah ditemukan beberapa orang calon,
anda dapat melakukan sholat istikharah bagi menetapkan pilihan. Insya Allah
cara ini lebih berkat dan sesuai dengan syariat Islam.
Jangan percaya dengan anggapan gombal yang mengatakan dengan pacaran
akan mengenal sifat-sifat sang calon pasangan hidup dan dengan demikian
perkawinan akan langgeng. Lihatlah kenyataan yang terjadi di sekitar kita,
berapa banyak orang yang pacaran bertahun-tahun, justru perkawinan mereka
kandas dan bubar dalam hitungan bulan bahkan minggu saja. Toh, nyatanya mereka
tidak kenal sifat asli pasangan mereka setelah berpacaran sekian lama.
Belajarlah bersifat realistis dan tidak terbuai mimpi serta terbawa arus
biusan manusia yang tidak takut kepada Tuhan dan hanya mengikuti bisikan nafsu
belaka.
Manalah mungkin ajaran agama kalah dengan bisikan nafsu?!
Semoga jawaban ini memberi kepahaman dan keyakinan kepada anda. Percayalah anda
tidak sendirian menempuh cara seperti ini. Saat ini ada banyak orang yang telah
mendapat hidayah mencari pasangan hidup lewat cara agama yang haq. Dan,
ternyata kehidupan mereka cukup berbahagia. Selamat berjuang dan terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar